22 Agustus 2026 - 14:01
Perselisihan Riyadh-Abu Dhabi Meluas, Saudi Perketat Pengawasan Transfer Bank ke UEA

Perselisihan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang sebelumnya mencakup sektor minyak dan geopolitik kini merambah ke bidang keuangan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Reuters mengungkap bahwa Arab Saudi telah meningkatkan pengawasan terhadap transfer keuangan yang berkaitan dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Dengan kebijakan tersebut, transaksi yang terkait dengan UEA kini masuk dalam kelompok transaksi yang memerlukan pemeriksaan lebih ketat karena dinilai memiliki risiko terkait aliran dana ilegal.

Tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pada awal tahun ini, Bank Sentral Arab Saudi telah memberi tahu sejumlah bank besar di negara itu agar menerapkan pengawasan tambahan terhadap pembayaran yang berkaitan dengan UEA.

Enam pelaku usaha juga mengatakan kepada Reuters bahwa bank-bank Saudi telah menunda atau mengembalikan transfer dana perusahaan mereka dalam berbagai mata uang tanpa memberikan penjelasan resmi mengenai alasan tindakan tersebut.

Pengawasan Perbankan Diperketat

Peraturan Bank Sentral Arab Saudi mewajibkan lembaga keuangan menerapkan pemeriksaan tambahan ketika berhubungan dengan nasabah atau yurisdiksi yang dinilai berisiko tinggi dalam hal pencucian uang, pendanaan terorisme, dan kejahatan finansial lainnya.

Sumber keempat, seorang eksekutif perusahaan Barat yang beroperasi di Arab Saudi, mengatakan perusahaannya juga menerima penjelasan serupa ketika menanyakan kepada bank mengenai alasan keterlambatan transaksi.

Dua sumber lainnya mengatakan kebijakan baru tersebut menempatkan UEA bersama lebih dari enam negara lain di kawasan yang dikategorikan Arab Saudi sebagai negara berisiko tinggi dalam persoalan kejahatan finansial.

Negara-negara tersebut antara lain Lebanon, Sudan Selatan, dan Irak, yang semuanya masuk dalam daftar abu-abu Financial Action Task Force (FATF), yakni daftar yurisdiksi yang berada di bawah pengawasan lebih ketat.

FATF pada 2024 telah mengeluarkan UEA dari daftar abu-abu setelah Abu Dhabi melakukan sejumlah reformasi dalam sistem pemberantasan pencucian uang. Namun, sejumlah lembaga antikorupsi saat itu menilai keputusan tersebut terlalu dini.

Riyadh dan Abu Dhabi Bantah Ada Pembatasan Langsung

Bank Sentral Arab Saudi membantah adanya pembatasan langsung terhadap negara tertentu. Kepada Reuters, lembaga tersebut menyatakan Arab Saudi memiliki kerangka pengawasan yang kuat untuk memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme, sesuai dengan standar yang ditetapkan FATF.

Bank sentral menambahkan bahwa seluruh bank Saudi menerapkan pengawasan dan langkah pencegahan yang diperlukan untuk mengurangi risiko berdasarkan evaluasi internal serta tingkat toleransi risiko masing-masing institusi.

Dalam penilaian tersebut, berbagai faktor turut diperhitungkan, termasuk risiko yang berkaitan dengan negara dan wilayah geografis tertentu.

Di sisi lain, seorang pejabat UEA mengatakan Kementerian Ekonomi negaranya belum menerima laporan dari perusahaan sektor swasta mengenai adanya gangguan atau keterlambatan yang tidak biasa dalam transfer bank antara kedua negara.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa UEA dan Arab Saudi memiliki hubungan ekonomi dan perdagangan yang kuat dan telah terjalin lama, didukung oleh arus perdagangan dan investasi yang signifikan.

Ia juga mengatakan pemerintah UEA terus berkomunikasi dengan sektor swasta dan lembaga terkait serta akan menindaklanjuti setiap persoalan spesifik yang disampaikan melalui jalur resmi.

Reuters, mengutip seorang sumber Saudi yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa peningkatan pengawasan itu dimaksudkan untuk mengirimkan pesan tersirat kepada para pemimpin UEA mengenai pentingnya menjaga hubungan baik antara kedua negara.

Penafsiran serupa juga disampaikan sejumlah sumber di sektor keuangan kawasan, meskipun mereka tidak mengetahui secara pasti alasan di balik penerapan langkah-langkah tersebut.

Langkah finansial ini berlangsung di tengah meningkatnya perbedaan kepentingan antara Riyadh dan Abu Dhabi dalam beberapa tahun terakhir.

Perselisihan tersebut mencakup berbagai isu, antara lain kuota produksi minyak, pengaruh geopolitik, serta persaingan untuk menarik investasi dan tenaga kerja asing berkeahlian tinggi.

Ketegangan semakin meningkat pada akhir tahun lalu terkait perang Yaman, ketika kedua negara mendukung pihak-pihak yang saling bersaing dalam konflik tersebut.

Arab Saudi menuduh UEA mengancam keamanan nasionalnya dengan mendukung kelompok separatis di Yaman selatan yang berupaya bergerak menuju wilayah perbatasan Saudi.

Perbedaan pandangan juga terlihat dalam cara kedua negara merespons perang antara Iran di satu pihak serta Amerika Serikat dan Israel di pihak lain.

Meski demikian, Riyadh dan Abu Dhabi berupaya menunjukkan sikap yang sejalan dalam menghadapi serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Apa Hubungan Keluarnya UEA dari OPEC dengan Kebijakan Saudi?

Sejumlah pelaku usaha yang diwawancarai Reuters mengatakan masalah transfer keuangan lintas batas mulai muncul beberapa pekan setelah UEA mengumumkan keputusan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 28 April.

Arab Saudi secara de facto memegang peran kepemimpinan di dalam OPEC.

Kepala sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Dubai mengatakan sejumlah klien Saudi perusahaannya kini menghadapi kesulitan dalam melakukan pembayaran.

Ia bahkan mendapat saran agar memindahkan kegiatan bisnisnya ke negara lain.

Seorang investor yang memiliki saham di dua perusahaan berbasis di UEA juga mengatakan kedua perusahaan tersebut menerima permintaan serupa dari klien mereka.

Para klien mengaku telah diminta oleh otoritas Saudi agar tidak bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang berbasis di UEA.

Investor tersebut menambahkan bahwa kedua perusahaan itu telah menunggu selama berminggu-minggu untuk menerima pembayaran dari Arab Saudi, termasuk transaksi dengan nilai di bawah satu juta dirham atau sekitar 272 ribu dolar AS.

Padahal sebelumnya, transfer semacam itu biasanya dapat diselesaikan hanya dalam beberapa hari.

Tiga bankir juga mengatakan peningkatan pengawasan membuat transfer dana menuju UEA harus melewati lebih banyak lembaga dan mendapat pemeriksaan lebih ketat dari unit kepatuhan perbankan.

Menurut mereka, penyelesaian sejumlah transaksi kini membutuhkan waktu hingga beberapa pekan, sementara sebagian transfer bahkan tidak sampai ke tujuan.

Tiga pelaku usaha lainnya mengatakan perusahaan mereka kini menggunakan negara ketiga sebagai perantara pembayaran untuk menghindari keterlambatan transfer langsung antara Arab Saudi dan UEA.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha